mestinya kau tahu
aku lelaki dengan berjuta ambisi
dan tak pernah berpikir bahwa hidup hanya berkisar sejengkal ini
harusnya kau tahu
aku lelaki adalah lelaki
yang pernah mengais segala kegilaan dan luka jalan berkali-kali
selebihnya kau tahu
aku lelaki dan tetaplah lelaki
dengan keletihan dan keinginan dan berharap untuk berbagi
sayatan ini terus menikam hati…
Permalink
Leave a Comment
Ya Tuhan…..
Aku terluka lagi saat mengais hati
Yang nyata saja terasa hampa
Seperti merasa ada sisi baik
Dari sebuah mimpi buruk
Resah dan gusarku
Tertumpah pada kata-kata
Kesedihan tanpa sebab
Sebuah cinta yang sombong
Atau hanya ketidakberdayaan kami
Melepas gelisah
Ah…
Mimpi masa kecilku sepertinya
Tak serumit ini adanya
Aku hanya berharap pada cinta
Pada hal yang dulunya
Kuanggap sederhana
Melunturkan cinta
Seperti menyangsikan hidup
Dan kebahagiaan
Adalah akhir dari sedih
Apakah ada antara..
Atau hanya vice ke versa
Dalam hidup mampukah kita
Menyimpan rahasia hati
Seperti menanam tunas
Di dalam bumi tertutup tanah
Dari rumput llalang
Sementara kita ingin
Tunas itu tumbuh dan berkembang
Menjadi pohon
Yang mengayomi rumah kita
Kita hanya menanti batas
Sebuah keinginan
Sampai menuju batas
Untuk memulai lagi
Penantian berikutnya
Pengharapan selanjutnya
Pengharapan yang absolut
Takdir-Nya yang transendental
Kesadaran mescaline
Mimpi…Nina bobo….
Hasrat akan pemahaman
Dan penerimaan cinta
Yang mendera…
Tanpa ampun!
PENGHARAPAN YANG ABSOLUT
TAKDIR-NYA YANG TRANSENDENTAL
KESADARAN MESCALINE
MIMPI dan NINA BOBOK KEHIDUPAN..
HASRAT AKAN PEMAHAMAN..
DAN PENERIMAAN CINTA
YANG MENDERA
TANPA AMPUN!
Permalink
1 Comment
Ya Tuhan..
Aku luka tinggal rangka bernyawa
Di tepi jalan
Mengais serpihan sisa iman..
Yang tercecer di jalan pulang
Permalink
4 Comments
Aku kembali menjalani hari
Melayangkan pandangan pada pucuk-pucuk daun di ujung ranting
Oh andai hari ini akan berlalu seindah mimpi malam tadi
purnama ke tiga malam ini
nyamuk gendut terbang lambat menabrak langit-langit
terjaga menanti batas malam
malam langitku leruh hatiku
ikhlaskan semua pada segala tiba
tetes air dari ledeng butut menjadi resah
mimpi pada dendam kehidupan dan lagu cinta yang sumbang
dinding mengelupas menorehkan luka
padamu rindu dendam dan doa-doa sederhana
mengalirlah jiwa temaram nyanyian senja
mengaca pada luka, luka,
luka kehidupan…yang terbawa hanyut
pada mimpi-mimpi sepi kabut harapan
terbang mengangkangi jendela hati
menembus batas nalarku pada yang kucinta
hidup sekali ini menunggumu terbang
bercerita tentang kisah mengurai harapan
malam menyambutku lepas jauh dalam kabut
mimpi indah berpoles luka
bagai tentara yang mencintai perang yang akan membuatnya terbunuh sia-sia
dapatkah engkau rela merasa sedih untuk bahagia
dapatkah engkau menari dalam ikatan belenggu
dapatkah engkau menunjukkan padaku rasa itu
aku menunggu saat hatiku berlabuh…
Permalink
Leave a Comment
Detak jam merambat seperti kanker pada nadi yang
sakit. Pelan, menusuk. Sedang lampu buram, seperti
kertas jerami, bergetar. Langkah sandal diseret
sepanjang gang, sengat malas dan kesal. Gemericik
gerimis, dan kentut yang terjepit. Baju-baju tersampir
bisu, dekat pintu. Korden layu, sepatu, buku-buku,
diam membisu. Detak jam merambat, menghitung
kesempatan hidup yang terus berkurang.
Mestilah ada sesuatu yang cukup berharga yang patut
diperjuangkan. Sehingga ada cukup alasan bagi
orang-orang untuk terus memilih hidup
Suara ribut, tak jelas maksud. Semua berjalan sendiri,
seperti tanpa kendali. Banyak pilihan telah digelar.
Tunggu apa lagi. Tak perlu kendang, sitar, dan bongoo
untuk menari. Yang kita butuhkan hanya detak jam. Tlah
cukup mewakili gerak yang semakin beku.
Reffrain hanya pada lagu-lagu pop. Yang ada sekarang,
dan yang terbaik, adalah detak jam. Membawa pada
keabadian yang merambat pelan seperi kura-kura tua.
Matahari tinggal rangka. Dikangkangi bulan dalam rahim
malam. Serangga semedi. Sedang mata menuntut istirah
pada berahi yang resah, dan tubuh yang lelah.
Terjamah.
Jadi, di manakah cinta?
Apakah cinta adalah ketakutan yang berpura-pura?
kata-kata oleh : Mas Joko Setyo Purnomo lagi
judul oleh : saya terpaksa memberi judul sendiri ..mas jokonya lupa ngasih..cocok nggak?
Permalink
Leave a Comment
Bulan senggama di balik kelam
meninggalkan nyanyian sumbang
bocah yang membuntingi udara.
hanya ini malam , milik mereka
kerna besok sekolah tutup
yang berarti saat-saat penuh
kesenangan yang menjanjikan
berdatangannya dewa dewi
dan segala pahlawan.
Purnama yang rupawan
disangga tembang dolanan
membentang di halaman terang
telah terselip di antara lembar-lembar lebam
masa silam.
Semua hanyalah kerinduan
yang susah payah terbangkitkan
pada kenyataan yang telah berpaling
pada entah, apa.
kata-kata oleh : Joko Setyo Purnomo ( teman SMA )
judul oleh : saya
Permalink
Leave a Comment
Kali ini aku berkata lain tentang cinta
Seperti halnya sebuah muara, cinta adalah sebuah pertemuan dimana ada arus, gejolak dan pergulatan
Aku lampiaskan dendam kehidupan bahagia padanya
Adalah kita yang tak terelakkan oleh cinta
Dan kadang membuat kesalahan karena cinta
Seperti sebuah kehidupan, cinta adalah perjalanan dan penantian..
kebesaran hati, keikhlasan jiwa, menerima segala tiba, dan kemurnian yang tak teracuni .
Kita sering dibimbangkan oleh keraguan, diragukan oleh kebimbangan dan terjaga sebelum sempat bermimpi, dihadapkan pada pilihan yang menawarkan sebuah ketenangan dalam rasa kenyamanan diluar arti sebuah penghayatan hidup sejati.
Yang jenis ini aku pernah merasai..
Adalah seorang diriku pengaismaknajiwadanmatahati
Yang kadang tak secerah siang hari.
Jiwa temaram melagukan keindahan dan ninabobo
Begitu cepat berlalu, menjalin sebuah rahasia mimpi dan dendam..luluh pada sebuah sisi yang tak bertepi.
Atau mungkin ada saatnya kita biarkan hati ini luruh saja
Teringat ketika hidup kita masih kanak benar
Jarak antara sorot mata ini
Begitu murni..
Sementara kini kau terasa asing dan aku lalu mengimbangi
….Mengertilah….
Pada hidup sepenuhnya aku berusaha untuk tetap teguh
Tidak akan kubiarkan jiwaku terlalu berguru pada keadaan.
Pergulatan batin adalah sesuatu yang berharga meski harus ditebus dengan kelelahan jiwa.
Menikam jiwa dengan mata hati, kujadikan asahan meski pedih peri.
Kenyataan yang berpaling menorehkan luka dan dendam kehidupan, melagukan sebuah kenangan akankah kelak kubawa mati dalam dekapan…
menjadi bagian dari diriku, tapi bukan masa depanku
Pernahkah kau perhatikan gurun, laut dan langit
kau lihat batas pada sesuatu yang sebenarnya hampir tak bertepi
begitu pula jiwa dan hatiku
dan biarkanlah cinta akan tetap menjadi rahasia hati….
Kegelisahanku kutumpahkan pada lagu, coretan dan kata-kata
ada saatnya aku teringat pada sebuah masa
dimana pada jiwa temaram..kulagukan nyanyian senja
merengkuh titian hati seperti menalari garis-garis malam
mengingat batas hidup …batas mati …
dan seuntai kenangan pada sebuah masa
tetaplah menjalin rahasia hati dan membisikkan doa-doa sederhana
banyak hal yang tak terperikan sebelum pada akhirnya kita menyerah
Pondering everything my dear……pondering everything……
mleto 54 surabaya, 2002
Permalink
Leave a Comment
Ada kalanya lebih baik kau biarkan saja gusar itu berlalu
Mengingat labirin rasa tak lagi mendera seperti dulu
Sedang diri menuntut istirah
Hati yang resah lamunkan gelisah
Kita sebenarnya sadar
Tuntutan keinginan yang dulu bukan lagi dasar pertimbangan kini
Tapi agaknya keliru juga jika kita mengira semua bisa diperhitungkan secara logika
Sedang hati selalu menuntut rasa itu ada.
Hal yang biasanya kita simpan terus
mesti saat kita sudah tak lagi membutuhkannya
Betapa bodohnya..
Ah hati ini rasanya terus tersungkur pada ujung gelisah
Apakah diri sudah bisa pahami atau semakin tak perduli
Mengapa hal yang dulunya sederhana
Kini jadi rumit adanya.
Menarilah denganku di pelataran malam demi cahaya bulan
Walau dekapan itu menggapai, biarlah berlalu melewatimu
Sambil menanti cerita sunyi ini mendera kembali
Sampai kita kehabisan kata dan terampas di ujung senja…
will i wait for the next great romance to wreak havoc on my heart and mind again
Permalink
Leave a Comment
Dalam jiwa, mimpi, dan ninabobok
Orkes malam dan teater hidup
Mengalir dan tak terbendung
Sorot merkuri menelanjangi kesepian ini
Sahabat, keluarga, dan kekasih..
Keadaan ini mengingatkan aku padamu
Katakanlah betapa aku masih
seorang lelaki yang seharusnya
Aku jalani
Impian yang kubangun mustinya tak sesulit ini
Bagai nyanyian vivaldi
Yang pernah kulagukan untukmu
Oh .. betapa hidup masih terasa lekat
Selami malam antara bulan seribu bintang
Aku tak bersua sekali lagi
Seiring tumpulnya nalarku terhadap hal yang aku cinta..
Permalink
Leave a Comment
Wajahku tiba-tiba menatap tak bergeming
Ada saat merasa
Ada saat berhenti
Siapapun . dirimu . yang . kucinta
Jangan . pernah . merasa . sedih
Yang . kucinta . siapapun . dirimu
Jangan . pernah . merasa . sedih
Kucinta. Dirimu . yang . siapapun
Jangan . pernah . merasa . sedih
Siapapun . yang . kucinta . dirimu
Jangan . pernah . merasa . sedih
Wajahku tak bergeming
Siapapun . dirimu . yang . pernah . merasa . kucinta . jangan . sedih
Saat aku merasa dan belum berhenti
Kita bicara pada tatapan mata
Pada sebuah senja yang beranjak pergi
Jika waktu itu kau tak bertanya
Mungkin lain cerita
Menatapmu secara sederhana
Adalah secerah hati sesunyi malam
Yang kian jauh mengejar bulan
Hanya sedikit sangsi tak seperti biasa
Aku kehabisan kata-kata hati
Bersekat merambat menari
Hanya desir yang mengalun tak bersuara
Ah..mungkin diriku yang terlalu kaku
Mengartikan pedulimu
Laguku sepi mengalun sendiri
Embun malam melumuri tubuh yang lusuh
Berjalan merambati labirin hidup yang makin redup
Kali ini mungkin bukan masalah hati
Kau mengambang padaku seperti air yang mengalir tenang
seperti cinta saja rasanya
Atau boleh saja dijadikan cinta
Aku bisa…
Mau yang biasa?
Atau seperti lagu pop , film bioskop dan novel cerita?
Kau tinggal pilih saja.
Ah rasanya hidup hanya masalah cinta-mencinta
Mungkin aku hanya punya versi yang berbeda….
Permalink
Leave a Comment
Next page »