The eye of the mourning (desire to distract)

August 26, 2008 at 1:45 pm (puisi dari pujangga lain)

Detak jam merambat seperti kanker pada nadi yang

sakit. Pelan, menusuk. Sedang lampu buram, seperti

kertas jerami, bergetar. Langkah sandal diseret

sepanjang gang, sengat malas dan kesal. Gemericik

gerimis, dan kentut yang terjepit. Baju-baju tersampir

bisu, dekat pintu. Korden layu, sepatu, buku-buku,

diam membisu. Detak jam merambat, menghitung

kesempatan hidup yang terus berkurang.

Mestilah ada sesuatu yang cukup berharga yang patut

diperjuangkan. Sehingga ada cukup alasan bagi

orang-orang untuk terus memilih hidup

Suara ribut, tak jelas maksud. Semua berjalan sendiri,

seperti tanpa kendali. Banyak pilihan telah digelar.

Tunggu apa lagi. Tak perlu kendang, sitar, dan bongoo

untuk menari. Yang kita butuhkan hanya detak jam. Tlah

cukup mewakili gerak yang semakin beku.

Reffrain hanya pada lagu-lagu pop. Yang ada sekarang,

dan yang terbaik, adalah detak jam. Membawa pada

keabadian yang merambat pelan seperi kura-kura tua.

Matahari tinggal rangka. Dikangkangi bulan dalam rahim

malam. Serangga semedi. Sedang mata menuntut istirah

pada berahi yang resah, dan tubuh yang lelah.

Terjamah.

Jadi, di manakah cinta?

Apakah cinta adalah ketakutan yang berpura-pura?

kata-kata oleh : Mas Joko Setyo Purnomo lagi

judul oleh : saya terpaksa memberi judul sendiri ..mas jokonya lupa ngasih..cocok nggak?

Permalink Leave a Comment

Dance to the miserable moon…again

August 26, 2008 at 1:39 pm (puisi dari pujangga lain)

Bulan senggama di balik kelam

meninggalkan nyanyian sumbang

bocah yang membuntingi udara.

hanya ini malam , milik mereka

kerna besok sekolah tutup

yang berarti saat-saat penuh

kesenangan yang menjanjikan

berdatangannya dewa dewi

dan segala pahlawan.

Purnama yang rupawan

disangga tembang dolanan

membentang di halaman terang

telah terselip di antara lembar-lembar lebam

masa silam.

Semua hanyalah kerinduan

yang susah payah terbangkitkan

pada kenyataan yang telah berpaling

pada entah, apa.

kata-kata oleh : Joko Setyo Purnomo ( teman SMA )

judul oleh : saya

Permalink Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.