The eye of the mourning (desire to distract)
Detak jam merambat seperti kanker pada nadi yang
sakit. Pelan, menusuk. Sedang lampu buram, seperti
kertas jerami, bergetar. Langkah sandal diseret
sepanjang gang, sengat malas dan kesal. Gemericik
gerimis, dan kentut yang terjepit. Baju-baju tersampir
bisu, dekat pintu. Korden layu, sepatu, buku-buku,
diam membisu. Detak jam merambat, menghitung
kesempatan hidup yang terus berkurang.
Mestilah ada sesuatu yang cukup berharga yang patut
diperjuangkan. Sehingga ada cukup alasan bagi
orang-orang untuk terus memilih hidup
Suara ribut, tak jelas maksud. Semua berjalan sendiri,
seperti tanpa kendali. Banyak pilihan telah digelar.
Tunggu apa lagi. Tak perlu kendang, sitar, dan bongoo
untuk menari. Yang kita butuhkan hanya detak jam. Tlah
cukup mewakili gerak yang semakin beku.
Reffrain hanya pada lagu-lagu pop. Yang ada sekarang,
dan yang terbaik, adalah detak jam. Membawa pada
keabadian yang merambat pelan seperi kura-kura tua.
Matahari tinggal rangka. Dikangkangi bulan dalam rahim
malam. Serangga semedi. Sedang mata menuntut istirah
pada berahi yang resah, dan tubuh yang lelah.
Terjamah.
Jadi, di manakah cinta?
Apakah cinta adalah ketakutan yang berpura-pura?
kata-kata oleh : Mas Joko Setyo Purnomo lagi
judul oleh : saya terpaksa memberi judul sendiri ..mas jokonya lupa ngasih..cocok nggak?
Dance to the miserable moon…again
Bulan senggama di balik kelam
meninggalkan nyanyian sumbang
bocah yang membuntingi udara.
hanya ini malam , milik mereka
kerna besok sekolah tutup
yang berarti saat-saat penuh
kesenangan yang menjanjikan
berdatangannya dewa dewi
dan segala pahlawan.
Purnama yang rupawan
disangga tembang dolanan
membentang di halaman terang
telah terselip di antara lembar-lembar lebam
masa silam.
Semua hanyalah kerinduan
yang susah payah terbangkitkan
pada kenyataan yang telah berpaling
pada entah, apa.
kata-kata oleh : Joko Setyo Purnomo ( teman SMA )
judul oleh : saya