The Man and the languages for his Remedy…

August 26, 2008 at 4:09 pm (puisi saya)

mestinya kau tahu
aku lelaki dengan berjuta ambisi
dan tak pernah berpikir bahwa hidup hanya berkisar sejengkal ini

harusnya kau tahu
aku lelaki adalah lelaki
yang pernah mengais segala kegilaan dan luka jalan berkali-kali

selebihnya kau tahu
aku lelaki dan tetaplah lelaki
dengan keletihan dan keinginan dan berharap untuk berbagi
sayatan ini terus menikam hati…

Permalink Leave a Comment

CrestFallen part # 2 deux

August 26, 2008 at 1:55 pm (puisi saya)

Ya Tuhan…..

Aku terluka lagi saat mengais hati

Yang nyata saja terasa hampa

Seperti merasa ada sisi baik

Dari sebuah mimpi buruk

Resah dan gusarku

Tertumpah pada kata-kata

Kesedihan tanpa sebab

Sebuah cinta yang sombong

Atau hanya ketidakberdayaan kami

Melepas gelisah

Ah…

Mimpi masa kecilku sepertinya

Tak serumit ini adanya

Aku hanya berharap pada cinta

Pada hal yang dulunya

Kuanggap sederhana

Melunturkan cinta

Seperti menyangsikan hidup

Dan kebahagiaan

Adalah akhir dari sedih

Apakah ada antara..

Atau hanya vice ke versa

Dalam hidup mampukah kita

Menyimpan rahasia hati

Seperti menanam tunas

Di dalam bumi tertutup tanah

Dari rumput llalang

Sementara kita ingin

Tunas itu tumbuh dan berkembang

Menjadi pohon

Yang mengayomi rumah kita

Kita hanya menanti batas

Sebuah keinginan

Sampai menuju batas

Untuk memulai lagi

Penantian berikutnya

Pengharapan selanjutnya

Pengharapan yang absolut

Takdir-Nya yang transendental

Kesadaran mescaline

Mimpi…Nina bobo….

Hasrat akan pemahaman

Dan penerimaan cinta

Yang mendera…

Tanpa ampun!

PENGHARAPAN YANG ABSOLUT

TAKDIR-NYA YANG TRANSENDENTAL

KESADARAN MESCALINE

MIMPI dan NINA BOBOK KEHIDUPAN..

HASRAT AKAN PEMAHAMAN..

DAN PENERIMAAN CINTA

YANG MENDERA

TANPA AMPUN!

Permalink 1 Comment

CrestFallen part # 1

August 26, 2008 at 1:53 pm (puisi saya)

Ya Tuhan..

Aku luka tinggal rangka bernyawa

Di tepi jalan

Mengais serpihan sisa iman..

Yang tercecer di jalan pulang

Permalink 4 Comments

Vacant of the heart

August 26, 2008 at 1:49 pm (puisi saya)

Aku kembali menjalani hari

Melayangkan pandangan pada pucuk-pucuk daun di ujung ranting

Oh andai hari ini akan berlalu seindah mimpi malam tadi

purnama ke tiga malam ini

nyamuk gendut terbang lambat menabrak langit-langit

terjaga menanti batas malam

malam langitku leruh hatiku

ikhlaskan semua pada segala tiba

tetes air dari ledeng butut menjadi resah

mimpi pada dendam kehidupan dan lagu cinta yang sumbang

dinding mengelupas menorehkan luka

padamu rindu dendam dan doa-doa sederhana

mengalirlah jiwa temaram nyanyian senja

mengaca pada luka, luka,

luka kehidupan…yang terbawa hanyut

pada mimpi-mimpi sepi kabut harapan

terbang mengangkangi jendela hati

menembus batas nalarku pada yang kucinta

hidup sekali ini menunggumu terbang

bercerita tentang kisah mengurai harapan

malam menyambutku lepas jauh dalam kabut

mimpi indah berpoles luka

bagai tentara yang mencintai perang yang akan membuatnya terbunuh sia-sia

dapatkah engkau rela merasa sedih untuk bahagia

dapatkah engkau menari dalam ikatan belenggu

dapatkah engkau menunjukkan padaku rasa itu

aku menunggu saat hatiku berlabuh…

Permalink Leave a Comment

The eye of the mourning (desire to distract)

August 26, 2008 at 1:45 pm (puisi dari pujangga lain)

Detak jam merambat seperti kanker pada nadi yang

sakit. Pelan, menusuk. Sedang lampu buram, seperti

kertas jerami, bergetar. Langkah sandal diseret

sepanjang gang, sengat malas dan kesal. Gemericik

gerimis, dan kentut yang terjepit. Baju-baju tersampir

bisu, dekat pintu. Korden layu, sepatu, buku-buku,

diam membisu. Detak jam merambat, menghitung

kesempatan hidup yang terus berkurang.

Mestilah ada sesuatu yang cukup berharga yang patut

diperjuangkan. Sehingga ada cukup alasan bagi

orang-orang untuk terus memilih hidup

Suara ribut, tak jelas maksud. Semua berjalan sendiri,

seperti tanpa kendali. Banyak pilihan telah digelar.

Tunggu apa lagi. Tak perlu kendang, sitar, dan bongoo

untuk menari. Yang kita butuhkan hanya detak jam. Tlah

cukup mewakili gerak yang semakin beku.

Reffrain hanya pada lagu-lagu pop. Yang ada sekarang,

dan yang terbaik, adalah detak jam. Membawa pada

keabadian yang merambat pelan seperi kura-kura tua.

Matahari tinggal rangka. Dikangkangi bulan dalam rahim

malam. Serangga semedi. Sedang mata menuntut istirah

pada berahi yang resah, dan tubuh yang lelah.

Terjamah.

Jadi, di manakah cinta?

Apakah cinta adalah ketakutan yang berpura-pura?

kata-kata oleh : Mas Joko Setyo Purnomo lagi

judul oleh : saya terpaksa memberi judul sendiri ..mas jokonya lupa ngasih..cocok nggak?

Permalink Leave a Comment

Dance to the miserable moon…again

August 26, 2008 at 1:39 pm (puisi dari pujangga lain)

Bulan senggama di balik kelam

meninggalkan nyanyian sumbang

bocah yang membuntingi udara.

hanya ini malam , milik mereka

kerna besok sekolah tutup

yang berarti saat-saat penuh

kesenangan yang menjanjikan

berdatangannya dewa dewi

dan segala pahlawan.

Purnama yang rupawan

disangga tembang dolanan

membentang di halaman terang

telah terselip di antara lembar-lembar lebam

masa silam.

Semua hanyalah kerinduan

yang susah payah terbangkitkan

pada kenyataan yang telah berpaling

pada entah, apa.

kata-kata oleh : Joko Setyo Purnomo ( teman SMA )

judul oleh : saya

Permalink Leave a Comment

Disarm

August 26, 2008 at 1:30 pm (puisi saya)

Kali ini aku berkata lain tentang cinta

Seperti halnya sebuah muara, cinta adalah sebuah pertemuan dimana ada arus, gejolak dan pergulatan
Aku lampiaskan dendam kehidupan bahagia padanya

Adalah kita yang tak terelakkan oleh cinta
Dan kadang membuat kesalahan karena cinta
Seperti sebuah kehidupan, cinta adalah perjalanan dan penantian..
kebesaran hati, keikhlasan jiwa, menerima segala tiba, dan kemurnian yang tak teracuni .

Kita sering dibimbangkan oleh keraguan, diragukan oleh kebimbangan dan terjaga sebelum sempat bermimpi, dihadapkan pada pilihan yang menawarkan sebuah ketenangan dalam rasa kenyamanan diluar arti sebuah penghayatan hidup sejati.
Yang jenis ini aku pernah merasai..

Adalah seorang diriku pengaismaknajiwadanmatahati
Yang kadang tak secerah siang hari.
Jiwa temaram melagukan keindahan dan ninabobo
Begitu cepat berlalu, menjalin sebuah rahasia mimpi dan dendam..luluh pada sebuah sisi yang tak bertepi.
Atau mungkin ada saatnya kita biarkan hati ini luruh saja

Teringat ketika hidup kita masih kanak benar
Jarak antara sorot mata ini
Begitu murni..
Sementara kini kau terasa asing dan aku lalu mengimbangi
….Mengertilah….

Pada hidup sepenuhnya aku berusaha untuk tetap teguh
Tidak akan kubiarkan jiwaku terlalu berguru pada keadaan.
Pergulatan batin adalah sesuatu yang berharga meski harus ditebus dengan kelelahan jiwa.
Menikam jiwa dengan mata hati, kujadikan asahan meski pedih peri.
Kenyataan yang berpaling menorehkan luka dan dendam kehidupan, melagukan sebuah kenangan akankah kelak kubawa mati dalam dekapan…
menjadi bagian dari diriku, tapi bukan masa depanku

Pernahkah kau perhatikan gurun, laut dan langit
kau lihat batas pada sesuatu yang sebenarnya hampir tak bertepi
begitu pula jiwa dan hatiku
dan biarkanlah cinta akan tetap menjadi rahasia hati….

Kegelisahanku kutumpahkan pada lagu, coretan dan kata-kata
ada saatnya aku teringat pada sebuah masa
dimana pada jiwa temaram..kulagukan nyanyian senja
merengkuh titian hati seperti menalari garis-garis malam
mengingat batas hidup …batas mati …
dan seuntai kenangan pada sebuah masa
tetaplah menjalin rahasia hati dan membisikkan doa-doa sederhana
banyak hal yang tak terperikan sebelum pada akhirnya kita menyerah

Pondering everything my dear……pondering everything……

mleto 54 surabaya, 2002

Permalink Leave a Comment

The glimpse, the deep stare, the stargazing…and the dance to the miserable moon

August 26, 2008 at 1:28 pm (puisi saya)

Ada kalanya lebih baik kau biarkan saja gusar itu berlalu

Mengingat labirin rasa tak lagi mendera seperti dulu

Sedang diri menuntut istirah

Hati yang resah lamunkan gelisah

Kita sebenarnya sadar

Tuntutan keinginan yang dulu bukan lagi dasar pertimbangan kini

Tapi agaknya keliru juga jika kita mengira semua bisa diperhitungkan secara logika

Sedang hati selalu menuntut rasa itu ada.

Hal yang biasanya kita simpan terus

mesti saat kita sudah tak lagi membutuhkannya

Betapa bodohnya..

Ah hati ini rasanya terus tersungkur pada ujung gelisah

Apakah diri sudah bisa pahami atau semakin tak perduli

Mengapa hal yang dulunya sederhana

Kini jadi rumit adanya.

Menarilah denganku di pelataran malam demi cahaya bulan

Walau dekapan itu menggapai, biarlah berlalu melewatimu

Sambil menanti cerita sunyi ini mendera kembali

Sampai kita kehabisan kata dan terampas di ujung senja…

will i wait for the next great romance to wreak havoc on my heart and mind again

Permalink Leave a Comment

The Conscience Mescaline

August 26, 2008 at 1:27 pm (puisi saya)

Dalam jiwa, mimpi, dan ninabobok

Orkes malam dan teater hidup

Mengalir dan tak terbendung

Sorot merkuri menelanjangi kesepian ini

Sahabat, keluarga, dan kekasih..

Keadaan ini mengingatkan aku padamu

Katakanlah betapa aku masih

seorang lelaki yang seharusnya

Aku jalani

Impian yang kubangun mustinya tak sesulit ini

Bagai nyanyian vivaldi

Yang pernah kulagukan untukmu

Oh .. betapa hidup masih terasa lekat

Selami malam antara bulan seribu bintang

Aku tak bersua sekali lagi

Seiring tumpulnya nalarku terhadap hal yang aku cinta..

Permalink Leave a Comment

Thru the gaze of these eyes

August 26, 2008 at 1:25 pm (puisi saya)

Wajahku tiba-tiba menatap tak bergeming

Ada saat merasa

Ada saat berhenti

Siapapun . dirimu . yang . kucinta

Jangan . pernah . merasa . sedih

Yang . kucinta . siapapun . dirimu

Jangan . pernah . merasa . sedih

Kucinta. Dirimu . yang . siapapun

Jangan . pernah . merasa . sedih

Siapapun . yang . kucinta . dirimu

Jangan . pernah . merasa . sedih

Wajahku tak bergeming

Siapapun . dirimu . yang . pernah . merasa . kucinta . jangan . sedih

Saat aku merasa dan belum berhenti

Kita bicara pada tatapan mata

Pada sebuah senja yang beranjak pergi

Jika waktu itu kau tak bertanya

Mungkin lain cerita

Menatapmu secara sederhana

Adalah secerah hati sesunyi malam

Yang kian jauh mengejar bulan

Hanya sedikit sangsi tak seperti biasa

Aku kehabisan kata-kata hati

Bersekat merambat menari

Hanya desir yang mengalun tak bersuara

Ah..mungkin diriku yang terlalu kaku

Mengartikan pedulimu

Laguku sepi mengalun sendiri

Embun malam melumuri tubuh yang lusuh

Berjalan merambati labirin hidup yang makin redup

Kali ini mungkin bukan masalah hati

Kau mengambang padaku seperti air yang mengalir tenang

seperti cinta saja rasanya

Atau boleh saja dijadikan cinta

Aku bisa…

Mau yang biasa?

Atau seperti lagu pop , film bioskop dan novel cerita?

Kau tinggal pilih saja.

Ah rasanya hidup hanya masalah cinta-mencinta

Mungkin aku hanya punya versi yang berbeda….

Permalink Leave a Comment

Next page »